Bimbingan, Pengertian, Dukungan – Itulah yang Paling Dibutuhkan

Kita mengenal banyak istilah bimbingan sekarang ini. Ada bimbingan belajar, bimbingan skripsi, bimbingan untuk atlet yang akan bertanding di kejuaraan, dan banyak lagi. Kalau kita melihatnya secara sederhana saja, kita tentu bisa membayangkan bahwa anak yang baru lulus SMA dan ingin masuk ke perguruan tinggi memerlukan les yang dinamakan bimbingan belajar. Begitupun, mahasiswa yang sebentar lagi akan menjadi sarjana, tetap perlu mendapatkan bimbingan untuk penulisan skripsi atau tugas akhir. Atlet Sea Games, Olimpiade. dan sebagainya sebelum diberangkatkan juga mendapatkan bimbingan, baik secara fisik maupun mental. Peran pembimbing mental sangatlah besar. Mereka memupuk kepercayaan diri dan semangat para atlet supaya berjuang sebaik mungkin. Kalaupun setelah bertanding ternyata hasil si atlet tidak memuaskan, mereka juga tetap memberikan dukungan moril dan pengertian bahwa hal seperti itu mungkin saja terjadi. Selain itu, mereka juga membangkitkan semangat si atlet untuk berusaha lebih baik dipertandingan selanjutnya.

Dengan analogi itu, kita sebagai orangtua juga harus bisa menjadi pembimbing moril anak kita. Jadi, seandainya anak kita berotak biasa saja dan kalah bila dibandingkan dengan teman-teman sebaya, kita harus sadar dan tidak menuntutnya untuk menjadi juara kelas. Kita justru harus lebih banyak memberikan bimbingan, pengarahan, penertian dan dukungan, terutama kalau anak mengalami masalah dengan pelajaran di sekolah.

Saya mendengar sebuah cerita mengenai sepasang suami istri yang hanya punya seorang anak laki-iaki semata wayang. Latar belakang pendidikan suami istri itu sangat hebat. Keduanya semasa SMA selalu mendapat ranking dan merupakan lulusan universitas ternama. Masalahnya, anak mereka semasa SD ternyata tidak berprestasi seperti yang mereka harapkan. Nilainya hanya sedikit di atas rata-rata kelas. Suami istri itu menyuruh si anak ikut les tambahan supaya bisa lebih berprestasi di sekolahnya. Sayangnya, prestasinya tidak juga meningkat. Celakanya lagi, saat di SMP, prestasinya semakin jelek. Semakin hari, suami istri itu semakin merasa kecewa. Mereka semakin sering melampiaskan emosi kepada si anak, sampai suatu saat anak itu tidak naik kelas!

Pada suatu hari suami istri itu berkunjung ke rumah teman anaknya. Kebetulan ibu anak itu adalah seorang psikolog. Setelah mendengarkan cerita pasangan suami istri ini, si psikolog menyarankan mereka untuk mengubah sikap. Mereka sebaiknya tidak menuntut anak punya prestasi seperti anak lain. Sebaliknya, mereka sebaiknya menerima keadaan anak apa adanya, memberi bimbingan, pengarahan, terutama dukungan dan pengertian untuk membuat si anak tidak merasa masa depannya hancur karena ia tidak naik kelas.

Pasangan suami istri itu pun kemudian mencoba menerapkan saran si psikolog. Betul saja, setelah diberi Iebih banyak bimbingan, pengarahan, pengertian dan dukungan, prestasi anaknya kian hari kian membaik. Kalau tidak salah, saat ini si anak sudah lulus dari perguruan tlnggi dan menduduki posisi yang lumayan di sebuah perusahaan multinasional.

Ingat, jangan terlalu menuntut. Berikan bimbingan, pengarahan, dan terutama pengertian serta dukungan kepada anak kita, karena semua anak membutuhkan vitamin itu.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: